Luwu – infoglobalnews.id | Pelabuhan penyeberangan Siwa–Tobaku yang menghubungkan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, tepatnya menuju wilayah Tobaku, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, hingga kini masih merasakan dampak serius akibat aksi demonstrasi yang berlangsung berkepanjangan. Aksi unjuk rasa yang terjadi di area pelabuhan tersebut telah menimbulkan gangguan signifikan terhadap aktivitas penyeberangan, khususnya arus distribusi logistik dan mobilitas kendaraan angkutan barang.

Pantauan di lapangan menunjukkan antrean truk pengangkut barang mengular panjang di sekitar area pelabuhan. Puluhan bahkan ratusan kendaraan berat terpaksa menunggu giliran menyeberang dalam waktu yang tidak menentu. Kondisi ini tidak hanya menghambat jadwal keberangkatan kapal feri, tetapi juga berdampak langsung pada kelancaran distribusi bahan kebutuhan pokok, hasil pertanian, hingga barang industri yang selama ini bergantung pada jalur penyeberangan Siwa–Tobaku.
Puang Lani, selaku pengelola pelayanan di Pelabuhan Penyeberangan Siwa–Tobaku, menuturkan bahwa dampak negatif dari aksi demo tersebut sudah dirasakan hampir selama satu bulan penuh. Menurutnya, aktivitas pelayanan pelabuhan menjadi tidak optimal akibat terganggunya sistem antrean dan jadwal penyeberangan kapal.
“Demo ini sudah hampir satu bulan berdampak pada pelayanan. Antrean truk semakin menumpuk dari hari ke hari, dan ini sangat merugikan banyak pihak, baik pengusaha angkutan, sopir, maupun masyarakat yang menunggu distribusi barang,” tutur Puang Lani kepada awak media.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keterlambatan penyeberangan menyebabkan biaya operasional kendaraan meningkat. Para sopir truk harus mengeluarkan biaya tambahan untuk konsumsi, bahan bakar, serta perawatan kendaraan selama menunggu antrean. Tidak sedikit pula pengemudi yang mengeluhkan kelelahan fisik dan tekanan mental akibat lamanya waktu tunggu di pelabuhan.
Selain sektor transportasi, dampak domino juga dirasakan oleh pelaku usaha dan masyarakat di daerah tujuan. Keterlambatan pasokan barang berpotensi memicu kelangkaan dan kenaikan harga di pasaran, terutama untuk kebutuhan pokok yang dikirim melalui jalur laut tersebut. Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius, mengingat pelabuhan Siwa–Tobaku merupakan salah satu jalur vital penghubung antarprovinsi.
Puang Lani berharap agar pihak-pihak terkait dapat segera mencarikan solusi terbaik sehingga aktivitas pelabuhan bisa kembali berjalan normal. Ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan kondusivitas area pelabuhan demi kepentingan bersama.
“Kami berharap ada solusi secepatnya, agar pelayanan kembali normal dan tidak ada lagi pihak yang dirugikan. Pelabuhan ini adalah jalur penting bagi perekonomian dan mobilitas masyarakat,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, antrean truk masih terlihat padat di sekitar pelabuhan. Para pengguna jasa penyeberangan berharap adanya langkah konkret dari pihak berwenang untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, sehingga aktivitas penyeberangan Siwa–Tobaku dapat kembali lancar dan aman seperti sediakala.
Jurnalis : Koordinator Liputan Sulsel-Bar H. Ahmad Sukriansyah


