Close Menu
INFO GLOBAL NEWSINFO GLOBAL NEWS
  • BERITA
    • DUNIA
    • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • OLAHRAGA
  • PERISTIWA
    • HUKUM
    • KRIMINAL
  • SOROTAN
  • KESEHATAN
    • OTOMOTIVE
  • POLRI
Jasa Buat Legalitas
Arsip
  • Oktober 2026
  • September 2026
  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Januari 2025
  • November 2022
  • Maret 2022
  • Maret 2021
  • Januari 2021
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Demos
  • Technology
  • Gaming
  • Buy Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
INFO GLOBAL NEWSINFO GLOBAL NEWS
  • BERITA
    • DUNIA
    • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • OLAHRAGA
  • PERISTIWA
    • HUKUM
    • KRIMINAL
  • SOROTAN
  • KESEHATAN
    • OTOMOTIVE
  • POLRI
Subscribe
INFO GLOBAL NEWSINFO GLOBAL NEWS
  • BERITA
  • PENDIDIKAN
  • OLAHRAGA
  • PERISTIWA
  • SOROTAN
  • KESEHATAN
  • POLRI
Beranda » Nasib Guru Honorer Tak Lebih Penting dari Program MBG? Sebuah Cermin Prioritas Kebijakan
SOROTAN

Nasib Guru Honorer Tak Lebih Penting dari Program MBG? Sebuah Cermin Prioritas Kebijakan

IchiroBy IchiroApril 5, 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Share WhatsApp Facebook Twitter Telegram
Share
Facebook WhatsApp Telegram Twitter

Oleh: Sahade

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Univ. Negeri Makassar

Makassar – infoglobalnews.id | Di tengah gencarnya implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini, muncul pertanyaan mendasar: apakah nasib guru honorer—yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan di daerah—telah ditempatkan pada prioritas yang sepadan?

Program MBG memiliki tujuan mulia. Berdasarkan berbagai proyeksi kebijakan, pemerintah menargetkan jutaan siswa mendapatkan akses makanan bergizi setiap hari. Secara ekonomi, program ini juga diyakini mampu menggerakkan sektor UMKM pangan lokal serta meningkatkan konsumsi domestik. Beberapa simulasi kebijakan menunjukkan potensi perputaran ekonomi hingga ratusan triliun rupiah dalam beberapa tahun ke depan. Dari sisi kesehatan, intervensi gizi pada anak usia sekolah memang terbukti secara global dapat menurunkan angka stunting dan meningkatkan konsentrasi belajar.

Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat realitas lain yang tak kalah penting: kesejahteraan guru honorer. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa jumlah guru honorer di Indonesia masih mencapai ratusan ribu orang. Sebagian dari mereka menerima gaji jauh di bawah standar kelayakan, bahkan di kisaran Rp300.000 hingga Rp1.000.000 per bulan, tergantung daerah dan kebijakan sekolah. Ironisnya, mereka menjalankan tanggung jawab yang sama dengan guru berstatus ASN, mulai dari mengajar, membimbing siswa, hingga mengelola administrasi pendidikan.

BACA:  Ditresnarkoba Polda Sumut Tangkap Nelayan Jaringan Antar Negara

Ketimpangan ini menjadi semakin kontras ketika dibandingkan dengan besaran anggaran untuk program MBG. Jika program tersebut benar-benar diimplementasikan secara nasional, kebutuhan anggaran bisa mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Sementara itu, upaya peningkatan kesejahteraan guru honorer sering kali tersendat oleh keterbatasan fiskal dan birokrasi yang kompleks. Pertanyaannya, apakah ini mencerminkan prioritas kebijakan yang tepat?

Dalam perspektif ekonomi publik, alokasi anggaran seharusnya mempertimbangkan efek jangka panjang. Program MBG memang berdampak pada peningkatan kualitas gizi anak, tetapi kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh asupan makanan. Guru tetap menjadi faktor kunci dalam proses pembelajaran. Tanpa guru yang sejahtera dan termotivasi, efektivitas program pendidikan apa pun akan sulit mencapai hasil optimal.

BACA:  Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Diduga Orang Terlatih

Studi dari berbagai lembaga pendidikan menunjukkan bahwa kesejahteraan guru berkorelasi langsung dengan kualitas pembelajaran. Guru yang mengalami tekanan ekonomi cenderung memiliki tingkat stres lebih tinggi, yang pada akhirnya memengaruhi kinerja mereka di kelas. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berdampak pada rendahnya kualitas lulusan, yang justru bertentangan dengan tujuan pembangunan sumber daya manusia.

Lebih jauh, ketimpangan ini juga berpotensi menciptakan ketidakadilan sosial. Guru honorer banyak tersebar di daerah terpencil dan wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga agen perubahan sosial. Ketika negara belum mampu memberikan penghargaan yang layak kepada mereka, pesan yang muncul adalah bahwa peran mereka kurang dihargai dibandingkan program-program besar yang bersifat populis.

Namun demikian, bukan berarti program MBG harus dihentikan. Yang perlu dikritisi adalah keseimbangan prioritas. Kebijakan publik tidak seharusnya bersifat dikotomis—memilih antara gizi siswa atau kesejahteraan guru. Keduanya merupakan komponen yang saling melengkapi dalam ekosistem pendidikan. Tanpa gizi yang baik, siswa sulit belajar optimal; tanpa guru yang sejahtera, proses belajar tidak akan berkualitas.

BACA:  PW IPNU Sumut Serukan Kewaspadaan terhadap TPPO Berkedok Operator Judi Online di Kamboja dan Myanmar

Solusi yang dapat ditawarkan adalah pendekatan integratif. Pemerintah dapat merancang skema anggaran yang memastikan peningkatan kesejahteraan guru honorer berjalan seiring dengan implementasi program MBG. Misalnya, dengan melakukan efisiensi pada distribusi program atau melibatkan sektor swasta dalam pembiayaan sebagian program gizi, sehingga ruang fiskal untuk pendidikan dapat diperluas.

Selain itu, percepatan pengangkatan guru honorer menjadi ASN atau skema PPPK perlu menjadi agenda prioritas. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan mereka, tetapi juga memberikan kepastian karier yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Pada akhirnya, perdebatan ini bukan sekadar soal anggaran, tetapi tentang arah kebijakan pembangunan manusia Indonesia. Apakah kita ingin membangun generasi yang sehat namun kurang mendapatkan pendidikan berkualitas, atau menciptakan keseimbangan antara keduanya?

Jawabannya seharusnya jelas: negara tidak boleh menempatkan guru honorer sebagai prioritas kedua. Sebab di tangan merekalah masa depan bangsa benar-benar dibentuk.

Laporan Koordinator Liputan Sulsel-Bar 

Views: 464
GURU Honorer Kemendikbud MBG
Share. WhatsApp Facebook Twitter Telegram
Previous ArticleAKPERSI Lakukan Penyegaran Kepengurusan DPD Sumatera Selatan, Siap Gelar Musyawarah Luar Biasa dan Pelantikan
Next Article Kapolda Sulsel Hadiri Prosesi Adat Mattompang Arajang, Wujud Dukungan Pelestarian Budaya di Hari Jadi Bone ke-696
Ichiro
  • Website

Berita Terkait:

SOROTAN

BBM bersubsidi dan LPG 3 Kg Langka di Makassar, LSM PERAK Desak APH Usut Dugaan Permainan Distribusi

September 7, 2026
SOROTAN

Tumpukan Sampah di Kecamatan Watang Pulu Arawa Resahkan Warga, Masyarakat Minta Pemda dan DLH Bertindak Tegas

Juni 26, 2026
SOROTAN

Pimpinan Pegadaian Pongtiku Faizal Disorot, Nasabah Klaim Emas 10 Gram Dilelang Tanpa Pemberitahuan

Juni 3, 2026
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

HUT RI KE 81
PASANG IKLAN
Iklan
Top Posts

Kasus Mandek di Benteng Malewang, Muncul Dugaan Kongkalikong antara Pelaku, Oknum Aparat, dan Pemerintah Desa

April 15, 2026259 Views

BANTAHAN TEGAS ATAS PEMBERITAAN DUGAAN PENIKAMAN KADES BENTENG MALEWANG

Mei 5, 2026460 Views

Najwa Salsabila Agussalim Bersinar di Grand Final Top Model Remaja Takalar

Februari 10, 202625 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
About
About
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • BERITA
    • DUNIA
    • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • OLAHRAGA
  • PERISTIWA
    • HUKUM
    • KRIMINAL
  • SOROTAN
  • KESEHATAN
    • OTOMOTIVE
  • POLRI
What's Hot

Kapolda Sulsel Sampaikan Terima Kasih, Aksi 28 Oktober Berjalan Aman dan Kondusif, Wujud Nyata Polisi Bersama Masyarakat

Oktober 29, 2026

Kumpul Bersama Masyarakat di Kabupaten Gowa, Kapolda Sulsel Ajak Warga Berperan Aktif Jaga Kamtibmas

Oktober 28, 2026

Gagal Berangkat ke Tanah Suci, Warga Mamuju Tengah Klaim Rugi Rp79,59 Juta

Oktober 28, 2026
HUT RI KE 81
Jasa Buat Legalitas
Most Popular

Kasus Mandek di Benteng Malewang, Muncul Dugaan Kongkalikong antara Pelaku, Oknum Aparat, dan Pemerintah Desa

April 15, 2026259 Views

BANTAHAN TEGAS ATAS PEMBERITAAN DUGAAN PENIKAMAN KADES BENTENG MALEWANG

Mei 5, 2026460 Views

Najwa Salsabila Agussalim Bersinar di Grand Final Top Model Remaja Takalar

Februari 10, 202625 Views
Our Picks

Kapolda Sulsel Sampaikan Terima Kasih, Aksi 28 Oktober Berjalan Aman dan Kondusif, Wujud Nyata Polisi Bersama Masyarakat

Oktober 29, 2026

Kumpul Bersama Masyarakat di Kabupaten Gowa, Kapolda Sulsel Ajak Warga Berperan Aktif Jaga Kamtibmas

Oktober 28, 2026

Gagal Berangkat ke Tanah Suci, Warga Mamuju Tengah Klaim Rugi Rp79,59 Juta

Oktober 28, 2026
INFO GLOBAL NEWS
Highland Light , Watercolour
Screenshot_20261028-221951_Facebook
Braunbürstige Hosenbiene Nr. 2 ?
Misprinted LEGO Castle / Space Torso
1953-1957 FIAT 1100 103A/TV/E Berlina
Deer Park UFSD 248
..

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

INFO GLOBAL NEWS
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube WhatsApp TikTok Telegram
  • REDAKSI
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • TENTANG KAMI
© 2026 INFO GLOBAL NEWS. Designed by Asnur.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.