MAMUJU — Gerakan Pramuka di Mamuju didorong untuk tidak berhenti pada rutinitas upacara, pelantikan, penghargaan, dan seremoni tahunan. Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, Pramuka justru ditantang mengambil peran yang lebih konkret dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus menjaga identitas budaya daerah.
Gagasan itu mengemuka dalam tulisan Muhammad Yusuf, S.H., M.H., Camat sekaligus Ketua Mabiran Gerakan Pramuka Kecamatan Sampaga, yang menyoroti pentingnya menjadikan Pramuka sebagai “laboratorium kehidupan” bagi generasi muda, bukan sekadar ruang nostalgia.
Menurutnya, kemajuan teknologi tidak otomatis membuat generasi muda semakin peduli terhadap lingkungan sosial maupun akar budayanya. Gawai memang mampu menghubungkan seseorang dengan dunia, tetapi belum tentu membuat mereka mengenal lingkungan terdekat dan memahami nilai-nilai yang diwariskan masyarakatnya.
Di titik inilah Pramuka dinilai memiliki posisi strategis. Pendidikan melalui pengalaman, kerja sama, disiplin, gotong royong, kepemimpinan, dan pengabdian dianggap dapat menjadi fondasi untuk melahirkan generasi muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki karakter dan identitas.
Bahasa Mamuju Jangan Berhenti di Seremoni
Persoalan budaya menjadi salah satu perhatian utama. Mamuju tidak hanya dipandang sebagai wilayah administratif, tetapi sebagai ruang hidup tempat sejarah, bahasa, adat, dan nilai sosial diwariskan antargenerasi. Karena itu, pembangunan daerah dinilai tidak cukup hanya berbicara tentang infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang siapa masyarakat Mamuju dan nilai apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks tersebut, visi Mamuju KEREN—Kreatif, Edukatif, Ramah, Energik, dan Nyaman—dinilai perlu memiliki satu fondasi tambahan: berakar pada budaya daerah.
Upaya pelestarian Bahasa Mamuju bahkan telah diarahkan ke ruang gerakan Pramuka. Dalam naskah tersebut disebutkan Ketua Mabicab Gerakan Pramuka Mamuju, Dr. Hj. Sitti Sutinah Suhardi, S.H., M.Si., memosisikan kader Pramuka sebagai garda depan pelestari bahasa daerah. Salah satu praktik yang dibawa adalah program “Makkema” atau Kemah Kampung Bahasa Daerah Mamuju, yang disebut akan dipraktikkan dan dipentaskan pada Jambore Nasional XII di Cibubur, 14–21 Agustus 2026.
“Satu Pramuka, Satu Kata Mamuju”
Gagasan pelestarian bahasa kemudian diturunkan ke aksi sederhana yang dapat dilakukan di tingkat Gugus Depan.
Mulai dari membuka latihan dengan salam atau ungkapan Bahasa Mamuju, mengenalkan kosakata lokal dalam setiap pertemuan, menggelar lomba mendongeng dan pidato menggunakan bahasa daerah, menyusun kamus digital, hingga membuat konten media sosial berbahasa Mamuju.
Pramuka juga didorong turun langsung menemui tokoh adat untuk merekam tradisi, permainan lokal, sejarah, serta istilah-istilah yang mulai jarang digunakan. Dengan pola tersebut, bahasa daerah tidak hanya disimpan dalam dokumen, tetapi kembali hidup dalam percakapan generasi muda.
Teknologi Bukan Musuh Budaya
Menariknya, gagasan tersebut tidak menempatkan teknologi sebagai ancaman yang harus dijauhi. Sebaliknya, teknologi justru dipandang sebagai alat untuk menyelamatkan identitas.
Konsep Mamuju Digital Storytelling menjadi salah satu pendekatan yang ditawarkan. Anggota Pramuka dapat menggali cerita dari tokoh-tokoh tua, kemudian mengemasnya menjadi video pendek, podcast, dokumentasi tradisi, hingga materi edukasi berbasis kecerdasan buatan dengan tetap melibatkan kurasi tokoh adat.
Pesannya jelas: bukan melawan arus digital, tetapi mengarahkan arus digital untuk memperkuat akar budaya.
Mabi Jangan Hanya Jadi Nama dalam Struktur
Sorotan lain diarahkan kepada Majelis Pembimbing atau Mabi. Kepala daerah, camat, hingga kepala desa yang menjadi unsur pembimbing dinilai tidak cukup hadir sebagai figur simbolis pada pelantikan atau seremoni organisasi.
Mabi justru didorong menjadi motor penggerak melalui kebijakan, pembukaan akses kolaborasi, dan integrasi program Pramuka dengan agenda pembangunan daerah. Bahkan setiap Gugus Depan dapat memiliki fokus aksi, mulai dari dokumentasi bahasa, pelestarian lingkungan, kesiapsiagaan bencana, hingga kebun pangan.
Dari “Tabe” ke Etika Media Sosial
Tantangan Pramuka di era digital juga tidak berhenti pada pelestarian bahasa. Nilai lokal seperti “Tabe”, gotong royong, penghormatan, dan rasa malu melakukan celaan dinilai perlu dibawa ke ruang digital.
WhatsApp, TikTok, Instagram, dan kolom komentar menjadi ruang baru pendidikan karakter. Jangan sampai generasi muda semakin canggih menggunakan teknologi, tetapi kehilangan kesantunan dalam berkomunikasi.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Gerakan Pramuka tidak semestinya hanya dilihat dari kemeriahan upacara atau banyaknya penghargaan. Ukurannya adalah seberapa banyak karakter anak muda terbentuk, budaya yang berhasil diselamatkan, dan seberapa kuat generasi muda mengenali dirinya sebagai bagian dari masyarakat Mamuju.
Pramuka Mamuju kini dihadapkan pada pilihan yang sederhana tetapi mendasar: tetap menjadi pelengkap seremoni, atau benar-benar turun ke tengah masyarakat sebagai penggerak karakter, penjaga budaya, dan jembatan antara generasi lama dengan generasi digital.
Dari lapangan upacara menuju desa. Dari ruang rapat menuju masyarakat. Dari bahasa yang mulai dilupakan menuju bahasa yang kembali dituturkan.


