Klik untuk memperbesar gambar 👆
MAMUJU, – Musim kemarau dan kondisi El Nino mulai memberikan dampak terhadap pelayanan air bersih. Sejumlah pelanggan di zona tertentu mengalami gangguan tekanan air akibat menurunnya debit sejumlah sumber air baku.

UPTD Air Bersih mengungkapkan, kondisi tersebut membuat kestabilan tekanan air dalam jaringan perpipaan ikut terganggu. Penurunan debit sumber air baku menyebabkan distribusi air ke sejumlah wilayah tidak lagi seoptimal kondisi normal.
Selain persoalan debit air baku, UPTD Air Bersih juga menerima berbagai keluhan pelanggan terkait lonjakan penggunaan air yang salah satunya dipicu kebocoran pada pipa persil.
Kondisi lain yang turut menjadi perhatian adalah kebiasaan sebagian pelanggan membuka keran dan membiarkannya dalam kondisi terbuka karena menunggu air mengalir.
“Dari hasil pantauan, ada pelanggan yang membuka keran dengan harapan ada aliran air. Kadang pelanggan lupa menutup kembali kerannya. Ketika tekanan air kembali kuat, air langsung mengalir dan water meter tetap dalam kondisi berjalan,” demikian penjelasan UPTD Air Bersih.

UPTD juga menjelaskan bahwa meski tekanan air yang sampai ke keran pelanggan lemah, bukan berarti tidak terdapat air di dalam jaringan perpipaan. Debit air yang kecil tetap dapat mengalir di dalam pipa sehingga berpotensi tercatat pada meter pelanggan.
Selain itu, penumpukan udara di dalam jaringan perpipaan juga disebut dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan aliran air ke pelanggan terganggu.
Larangan Penggunaan Mesin Sedot
UPTD Air Bersih kembali mengingatkan pelanggan agar tidak menggunakan mesin pompa atau mesin sedot secara langsung pada jaringan perpipaan.
Larangan tersebut disebut telah diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 13 Tahun 2016 Pasal 14.
Penggunaan mesin sedot dinilai dapat mengganggu sistem distribusi karena menyebabkan perubahan karakteristik aliran di dalam jaringan perpipaan.
Dalam kondisi normal, distribusi diharapkan berlangsung secara stabil. Namun ketika sebagian pelanggan menggunakan pompa untuk menyedot air secara langsung, tekanan pada jaringan dapat berubah dan berpotensi menyebabkan distribusi menjadi tidak merata.
“Penggunaan mesin sedot sangat mengganggu tekanan dalam aliran perpipaan. Yang mestinya aliran laminer, karena adanya pompa sedot menjadi turbulen. Ini menjadi salah satu faktor tidak meratanya distribusi dan tekanan air menjadi lemah,” jelas pihak UPTD.
Karena itu, pelanggan diminta tidak serta-merta membuka keran dan membiarkannya terbuka sepanjang waktu. Sebab, tekanan air dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi debit dan distribusi jaringan.
Hanya Satu Mobil Tangki
Di tengah meningkatnya kebutuhan air bersih, UPTD Air Bersih juga menghadapi keterbatasan armada distribusi.
Saat ini, UPTD Air Bersih hanya memiliki satu unit mobil tangki untuk melayani kebutuhan distribusi air bersih. Kondisi tersebut membuat petugas kewalahan ketika permintaan meningkat tajam selama musim kemarau.
Padahal, armada tersebut harus melayani kebutuhan air pada lima SPAM IKK yang berada dalam cakupan pelayanan UPTD Air Bersih.
UPTD berharap pemerintah dapat menambah sedikitnya dua armada mobil tangki agar pelayanan distribusi air bersih dapat dilakukan lebih optimal, khususnya ketika terjadi krisis air akibat kemarau panjang.
Permintaan tidak hanya datang dari pelanggan, tetapi juga masyarakat yang belum menjadi pelanggan dan mengalami krisis air bersih.
Meski demikian, penanganan krisis air bersih selama dua bulan terakhir tetap dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk unsur TNI, Polri, BAZNAS, BPBD, Satgas El Nino serta relawan lainnya.
Kolaborasi tersebut telah membantu distribusi air bersih kepada masyarakat dengan total volume yang diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta liter selama dua bulan.
Dorong Perubahan Status Menjadi BLUD
Di tengah tantangan pelayanan, UPTD Air Bersih juga mendorong pengembangan kelembagaan melalui perubahan status menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Status BLUD dinilai menjadi salah satu kebutuhan untuk meningkatkan fleksibilitas pengelolaan anggaran sekaligus mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat.
Selama masih berstatus UPTD, fleksibilitas dalam pengelolaan anggaran dinilai masih terbatas sehingga dapat menjadi kendala dalam merespons kebutuhan pelayanan secara cepat.
“BLUD merupakan keniscayaan dalam pengembangan kelembagaan untuk mengoptimalkan pelayanan. Dengan status UPTD, fleksibilitas anggaran belum bisa dilakukan. BLUD adalah harapan kita bersama dan kami selalu berkoordinasi dengan BPBPK untuk melakukan upgrade status kelembagaan,” ungkapnya.
Air Adalah Tanggung Jawab Bersama
Menghadapi kondisi kemarau dan El Nino, UPTD Air Bersih mengajak pelanggan serta seluruh lapisan masyarakat untuk lebih bijak menggunakan air.
Masyarakat juga diharapkan ikut menjaga keberadaan sumber air baku, baik di wilayah hulu maupun hilir.
Ketersediaan air tidak hanya bergantung pada kemampuan operator mendistribusikan air, tetapi juga dipengaruhi kondisi sumber air dan perilaku masyarakat dalam menggunakan serta menjaga lingkungan.
“Urusan air adalah tanggung jawab kita bersama,” tegas pihak UPTD.
Dengan kondisi debit sumber air yang terus mengalami tekanan selama musim kemarau, kesadaran masyarakat untuk menghemat air dan menjaga sumber air baku menjadi bagian penting dalam memastikan pelayanan air bersih tetap berjalan.



