Klik untuk memperbesar gambar 👆
LOMBOK TENGAH — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Batukliang Utara Karang Sidemen merespons cepat laporan adanya temuan ulat pada sejumlah ompreng makanan bergizi gratis (MBG) di SD-SMP SATAP Repuk Sintung Barat, Senin (14/9/2026).
Temuan tersebut diketahui saat kegiatan pemberian MBG berlangsung. Dari 148 porsi makanan yang diterima penerima manfaat di sekolah tersebut, terdapat empat ompreng yang dilaporkan ditemukan ulat.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihak SPPG bersama pihak terkait segera melakukan pengecekan dan pengumpulan informasi di lapangan. Makanan yang dilaporkan bermasalah juga langsung dihentikan untuk dikonsumsi dan ditarik kembali sebagai langkah kehati-hatian.
Koordinator Kecamatan Batukliang Utara, Johan Sastra Irawan, menyampaikan permohonan maaf kepada penerima manfaat, pihak sekolah, serta orang tua siswa atas adanya kejadian tersebut.
Menurut Johan, permintaan maaf tersebut merupakan bentuk tanggung jawab dan kepedulian pihak pengelola terhadap kenyamanan penerima manfaat. Ia menegaskan bahwa setiap laporan mengenai kualitas makanan akan menjadi perhatian serius dan ditindaklanjuti melalui proses pengecekan serta evaluasi.
“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada para penerima manfaat, pihak sekolah, dan orang tua siswa atas kejadian ini. Kami memahami bahwa hal seperti ini menimbulkan kekhawatiran. Karena itu, laporan yang kami terima langsung kami tindak lanjuti dan makanan yang dilaporkan bermasalah segera diamankan,” ujar Johan Sastra Irawan.
Johan mengatakan, pihak SPPG tidak ingin mengabaikan laporan yang disampaikan dari lapangan. Empat ompreng yang menjadi temuan kemudian diamankan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut guna memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai penyebab dan sumber temuan.
Berdasarkan hasil konfirmasi terhadap penerima manfaat lainnya yang mendapatkan makanan dari SPPG Karang Sidemen, tidak ditemukan keluhan serupa.
Sementara itu, Ahli Gizi SPPG Karang Sidemen, Umi Saori, menyampaikan bahwa berdasarkan pemeriksaan awal, ulat tersebut diduga berkaitan dengan bahan sayuran yang digunakan dalam menu. Namun, pihak SPPG masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan sumber dan proses terjadinya temuan tersebut.
Pihak SPPG juga melakukan koordinasi dengan pihak sekolah dan pihak terkait sebagai bagian dari proses klarifikasi sekaligus evaluasi terhadap pelaksanaan penyediaan dan pendistribusian makanan.
Johan menambahkan, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pengelola SPPG untuk meningkatkan ketelitian pada seluruh tahapan penyediaan makanan, mulai dari pemeriksaan bahan baku, proses pencucian dan pengolahan, pemorsian, hingga pendistribusian kepada penerima manfaat.
“Kami akan melakukan evaluasi secara menyeluruh. Mulai dari pemeriksaan bahan baku sampai proses pemorsian dan distribusi akan menjadi perhatian agar kualitas makanan yang diterima penerima manfaat tetap terjaga,” jelasnya.
Respons cepat dengan menarik makanan yang dilaporkan bermasalah dilakukan sebagai langkah kehati-hatian untuk menjaga keamanan dan kenyamanan penerima manfaat program MBG.
SPPG Lombok Tengah Batukliang Utara Karang Sidemen yang mulai beroperasi pada 29 Agustus 2025. Saat ini, SPPG tersebut tercatat melayani sekitar 2.638 penerima manfaat yang terbagi dalam 20 kelompok penerima manfaat.
Pihak SPPG berharap proses pemeriksaan dapat memberikan kejelasan mengenai kejadian tersebut sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan MBG.
Johan juga menegaskan pentingnya keterbukaan terhadap setiap laporan dari penerima manfaat maupun pihak sekolah.
“Kami terbuka terhadap setiap masukan dan laporan dari sekolah maupun penerima manfaat. Ini menjadi bagian dari evaluasi kami untuk terus memperbaiki pelayanan dan memastikan pelaksanaan program MBG berjalan dengan baik,” tutup Johan Sastra Irawan.



