Klik Untuk pemberbesar gambar
PASANGKAYU — Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) jaringan air bersih perpipaan senilai sekitar Rp2,9 miliar di Desa Saptanayaja, Kecamatan Duripoku, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, menuai keluhan warga.
Proyek yang diharapkan menjadi solusi kebutuhan air bersih tersebut hingga kini disebut belum berfungsi secara optimal. Warga mengaku tidak pernah merasakan manfaat dari jaringan air bersih itu karena air tidak kunjung mengalir.
Proyek tersebut berada di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pasangkayu dan dikerjakan oleh CV Garda Vigat Perkasa. Pekerjaan dimulai pada November 2023 dengan masa pelaksanaan 55 hari kalender.
“Sejak dikerja sampai sekarang tidak ada fungsinya itu, tidak pernah dirasakan sama masyarakat, air tidak ada mengalir,” ujar warga Saptanayaja, Eri.
Menurut Eri, masyarakat sejak awal berharap jaringan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, terlebih saat musim kemarau ketika sumber air warga mulai sulit.
Warga memang masih memiliki sumur di rumah masing-masing. Namun, kualitas air disebut keruh dan debitnya semakin berkurang ketika musim kemarau.
“Adaji sumur warga, cuman itu pun warnanya kayak teh. Makanya diharap sekali itu (proyek jaringan air bersih) berfungsi,” tuturnya.
Legislator Soroti Anggaran
Keluhan masyarakat tersebut turut mendapat sorotan anggota DPRD Pasangkayu, Robin Candra Hidayat.
Robin mengungkapkan, proyek tersebut telah mendapatkan anggaran dalam dua tahap. Pada 2023, anggaran pembangunan disebut mencapai sekitar Rp2,7 miliar.
Kemudian pada 2025, kembali dialokasikan anggaran sekitar Rp200 juta untuk pengerjaan saringan.
Dengan total anggaran yang disebut mendekati Rp3 miliar, Robin mempertanyakan manfaat proyek tersebut bagi masyarakat.
“Hampir Rp3 miliar uang yang digunakan jadi tidak berguna. Seharusnya di situasi permasalahan kekeringan panjang atau El Nino seperti saat ini, proyek itu hadir jadi solusi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, karena tidak tuntas dan mangkrak malah jadi tambah masalah,” kata Robin.
Ia menilai kondisi tersebut tidak semestinya terjadi karena proyek yang menggunakan anggaran publik harus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
Terlebih, air bersih merupakan kebutuhan dasar yang semakin penting ketika wilayah tersebut menghadapi musim kemarau.
Janji Uji Coba Dipertanyakan
Robin juga mengungkapkan adanya rencana uji coba jaringan SPAM tersebut. Namun, hingga akhir Agustus 2026, uji coba yang sebelumnya disebut dijanjikan pada Maret belum terealisasi.
“Dulu Maret janjinya mau diuji coba, sampai ini mau berakhir Agustus 2026 belum ada,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu segera mengambil langkah konkret untuk memastikan proyek tersebut dapat berfungsi.
Masyarakat juga berharap persoalan jaringan air bersih itu tidak kembali berlarut-larut. Sebab, di tengah kondisi kekeringan, keberadaan infrastruktur air bersih seharusnya menjadi solusi, bukan justru menjadi proyek yang dipertanyakan manfaatnya.
Proyek SPAM tersebut kini menjadi perhatian warga dan legislatif. Publik menunggu kejelasan mengenai penyebab jaringan belum berfungsi serta kepastian kapan air dapat benar-benar mengalir dan dinikmati masyarakat.
InfoGlobalNews.id akan terus mengikuti perkembangan persoalan proyek air bersih tersebut, termasuk langkah pemerintah daerah dalam menindaklanjuti keluhan warga.


