Soppeng, – Proyek revitalisasi gedung SDN 7 Salotungo dengan nilai anggaran sekitar Rp2 miliar lebih kembali menjadi perhatian LSM SIDIK. Besarnya anggaran dinilai harus berbanding lurus dengan kualitas pekerjaan serta ketatnya pengawasan di lapangan.
Ketua LSM SIDIK, Mahmud Cambang, mengaku sejak awal telah melakukan pemantauan terhadap proyek tersebut. Ia bahkan telah berkoordinasi dengan fasilitator, konsultan maupun pihak-pihak terkait pelaksanaan pekerjaan.
Dari hasil pemantauan tersebut, kata Mahmud, sejumlah catatan telah dikantongi dan menjadi bahan untuk terus mengawal proses revitalisasi sekolah tersebut.
“Kita sudah melakukan investigasi dan koordinasi dengan pihak terkait. Ada sejumlah catatan yang kami pegang,” ujar Mahmud.
Pemantauan kembali dilakukan Mahmud pada Jumat sekitar pukul 09.58 WITA. Saat tiba di SDN 7 Salotungo, ia melihat Ketua Pelaksana berada di lokasi dan tengah mengunci pagar sekolah menggunakan gembok.
Mahmud kemudian menyapa dan hendak masuk ke area sekolah. Namun, ia mendapat jawaban singkat bahwa para tukang tidak bekerja pada hari itu.
“Tukang tidak kerja hari ini,” jawabnya singkat.
Setelah itu, Ketua Pelaksana tersebut terlihat menaiki sepeda motor dan meninggalkan lokasi.
Bagi Mahmud, kondisi tersebut menjadi bagian dari dinamika pelaksanaan proyek yang patut dicermati. Terlebih, proyek tersebut menggunakan anggaran publik dengan nilai mencapai miliaran rupiah.
Ia menegaskan, pengawasan terhadap proyek pemerintah merupakan bagian dari kontrol masyarakat agar pelaksanaan pekerjaan benar-benar sesuai dengan perencanaan, spesifikasi teknis dan ketentuan yang berlaku.
“Anggarannya besar. Maka pengawasannya juga harus serius. Jangan sampai setelah pekerjaan selesai baru muncul persoalan,” tegasnya.
Mahmud juga meminta instansi terkait tidak hanya mengandalkan laporan administratif, tetapi memastikan kondisi pekerjaan benar-benar sesuai dengan fakta di lapangan.
LSM SIDIK menyatakan akan terus melakukan pemantauan terhadap proyek revitalisasi SDN 7 Salotungo hingga pekerjaan tersebut rampung.
Menurut Mahmud, perhatian publik terhadap proyek tersebut bukan untuk menghambat pembangunan, melainkan memastikan uang negara digunakan secara tepat dan hasil akhirnya benar-benar memberikan manfaat bagi peserta didik.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh penjelasan dari pihak pelaksana maupun instansi terkait mengenai alasan tidak adanya aktivitas pekerja saat kunjungan tersebut.



