Klik untuk memperbesar gambar 👆
MAMUJU TENGAH, – Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu diwaspadai karena dapat berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, khususnya sistem pernapasan. Paparan asap yang mengandung partikel halus dan berbagai zat pencemar berpotensi memicu gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata hingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Menyikapi risiko tersebut, Kepala UPTD Puskesmas Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Yusri M, SKM., M.Kes., mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi paparan kabut asap.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit jantung dan paru-paru. Kelompok tersebut lebih rentan mengalami dampak kesehatan ketika terpapar pencemaran udara.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan dampak kabut asap terhadap kesehatan. Kurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, gunakan masker yang sesuai apabila harus beraktivitas di luar, dan segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami keluhan pernapasan,”
Asap Karhutla Mengandung Partikel Halus Berbahaya
Kabut asap akibat karhutla bukan hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga dapat membawa partikel dan gas pencemar yang berbahaya bagi tubuh.
Salah satu komponen yang perlu diwaspadai adalah particulate matter 2.5 (PM2.5), yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru. Paparan partikel ini dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, batuk, dan sesak napas, serta memperburuk penyakit yang sudah diderita sebelumnya.
Asap kebakaran juga dapat mengandung karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), senyawa organik mudah menguap (VOCs), serta zat pencemar lainnya. Kandungan tersebut bergantung pada jenis bahan yang terbakar dan kondisi kebakaran.
Risiko kesehatan dapat meningkat ketika paparan berlangsung lama, konsentrasi pencemar tinggi, atau seseorang memiliki kondisi kesehatan yang membuatnya lebih rentan.
Masyarakat Diminta Mengurangi Paparan Asap
Untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan, masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga dan pekerjaan fisik berat, ketika kualitas udara memburuk.
Pintu dan jendela sebaiknya ditutup saat asap masuk dari luar. Jika memungkinkan, masyarakat dapat menggunakan alat penyaring udara yang sesuai untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
Apabila harus keluar rumah, penggunaan respirator N95 atau yang setara dapat membantu menyaring partikel halus, selama masker terpasang rapat dan digunakan dengan benar. Masker tersebut tidak melindungi dari semua gas berbahaya dalam asap, sehingga pembatasan paparan tetap menjadi langkah utama.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru perlu mendapat perhatian lebih. Aktivitas mereka di luar ruangan sebaiknya dibatasi ketika kondisi udara tidak sehat.
Kenali Gejala ISPA dan Jangan Abaikan Tanda Bahaya
Paparan kabut asap dapat menimbulkan keluhan berupa batuk, tenggorokan terasa perih, mata teriritasi, dan kesulitan bernapas. Gejala yang muncul perlu diperhatikan, terutama apabila tidak kunjung membaik atau semakin berat.
Masyarakat yang mengalami keluhan pernapasan dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Sementara itu, sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, atau penurunan kondisi secara drastis merupakan tanda bahaya yang memerlukan pertolongan medis segera.
Langkah penanganan sejak dini penting untuk mengurangi risiko komplikasi, terutama pada kelompok rentan dan orang yang memiliki penyakit penyerta.
Pencegahan Karhutla Membutuhkan Peran Bersama
Selain melindungi diri dari paparan asap, masyarakat juga diharapkan berperan aktif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Pembakaran lahan secara sembarangan perlu dihindari, sementara kejadian kebakaran harus segera dilaporkan kepada pihak berwenang agar dapat ditangani secepat mungkin.
Upaya mengurangi dampak kabut asap tidak cukup hanya mengandalkan penanganan setelah gangguan kesehatan terjadi. Pencegahan kebakaran, pemantauan kualitas udara, penyebaran informasi kesehatan, dan kepatuhan masyarakat terhadap imbauan menjadi bagian penting dalam melindungi kesehatan bersama.
Melalui peningkatan kewaspadaan dan penerapan langkah perlindungan yang tepat, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan pernapasan selama kondisi kabut asap. Kesadaran untuk menjaga kesehatan sekaligus mencegah karhutla menjadi tanggung jawab bersama demi melindungi keselamatan masyarakat.



