Klik untuk memperbesar gambar 👆
PASANGKAYU — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pasangkayu kembali menuai sorotan. Kali ini, bukan soal rasa atau jumlah porsi, melainkan temuan yang jauh lebih serius: kaki seribu ditemukan di dalam menu makanan yang diterima penerima manfaat di salah satu sekolah yang dilayani SPPG Lariang Singgani.

Temuan tersebut mencuat melalui sebuah video yang diunggah di Facebook oleh akun Wildawnty, yang disebut merupakan salah satu guru di sekolah penerima manfaat. Dalam rekaman itu, tampak seekor kaki seribu berada di dalam makanan MBG.
Video tersebut sontak memunculkan pertanyaan publik: bagaimana hewan tersebut bisa lolos dari seluruh rangkaian pemeriksaan hingga akhirnya masuk ke makanan yang sudah berada di tangan siswa?
Pertanyaan ini tidak boleh berhenti pada persoalan “ada kaki seribu dalam makanan”. Yang jauh lebih penting adalah menguji sistem pengawasan keamanan pangan SPPG dari dapur hingga meja penerima manfaat.
Sebab, sebelum makanan dibagikan kepada anak-anak, terdapat sejumlah tahapan yang semestinya menjadi titik kontrol. Mulai dari penerimaan bahan pangan, pencucian dan pengolahan, pemasakan, pemorsian, pengecekan makanan hingga distribusi ke sekolah.
Lantas, di titik mana pengawasan itu bekerja dan di titik mana kemungkinan celahnya terjadi?
Apakah makanan sudah diperiksa secara visual sebelum ditutup dan didistribusikan?
Apakah proses pemorsian dilakukan dengan standar higiene yang memadai?
Apakah lingkungan dapur dan area pemorsian benar-benar terlindungi dari masuknya hewan atau benda asing?
Dan yang paling penting, apakah kejadian serupa hanya ditemukan dalam satu kotak makanan atau ada porsi lain yang mengalami hal sama?
Jangan Sekadar Klarifikasi, Harus Ada Penelusuran
Temuan ini seharusnya tidak diselesaikan hanya dengan permintaan maaf atau klarifikasi singkat.
Pihak pengelola SPPG Lariang Singgani perlu menjelaskan secara terang bagaimana proses produksi makanan pada hari kejadian berlangsung.
Jika benar temuan tersebut hanya terjadi pada satu porsi, penyebabnya tetap perlu ditelusuri. Sebaliknya, jika ditemukan pada beberapa porsi, maka persoalannya tentu membutuhkan pemeriksaan yang lebih serius terhadap proses produksi dan distribusi.
Pihak sekolah juga perlu menjelaskan kapan makanan diterima, kapan temuan tersebut diketahui, apakah siswa sempat mengonsumsi makanan tersebut, serta apakah kejadian itu telah dilaporkan kepada pengelola SPPG dan pihak terkait.
MBG Jangan Hanya Mengejar Jumlah Porsi
Program MBG merupakan program yang menyentuh langsung kebutuhan anak-anak. Karena itu, ukuran keberhasilan tidak cukup hanya dihitung dari berapa ribu porsi makanan yang berhasil dibagikan setiap hari.
Satu porsi makanan yang diduga mengandung benda atau organisme asing pun layak menjadi alarm bagi sistem pengawasan.
Publik berhak mengetahui apakah standar keamanan pangan benar-benar diterapkan atau hanya berhenti sebagai prosedur di atas kertas.
Temuan kaki seribu ini menjadi ujian bagi SPPG Lariang Singgani: apakah sistem pengawasan mampu mendeteksi persoalan sebelum makanan sampai kepada siswa?
Jika ternyata terdapat kelemahan dalam prosedur, maka evaluasi harus dilakukan dan titik lemahnya harus diperbaiki.
Jangan sampai kasus seperti ini baru dianggap penting setelah video beredar di media sosial.
Pertanyaan yang Menunggu Jawaban
Ada sejumlah pertanyaan yang kini patut dijawab pihak terkait:
Bagaimana kaki seribu bisa masuk ke dalam makanan?
Siapa yang melakukan pemeriksaan akhir sebelum makanan didistribusikan?
Apakah ada pemeriksaan terhadap seluruh porsi pada hari kejadian?
Apakah sampel makanan masih diamankan untuk memastikan penyebabnya?
Apakah SPPG telah melaporkan temuan tersebut kepada pihak berwenang atau pengawas program MBG?
Dan yang paling mendasar:
Apa langkah konkret agar kejadian serupa tidak kembali terjadi?
Video yang beredar di media sosial kini telah membuka persoalan tersebut ke ruang publik. Selanjutnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantahan atau pembenaran, tetapi penjelasan yang transparan dan langkah perbaikan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab, ketika makanan diperuntukkan bagi anak-anak sekolah, standar keamanan tidak boleh berada di urutan kedua setelah target distribusi.
Temuan ini patut menjadi bahan evaluasi serius bagi pengelola SPPG Lariang Singgani dan pihak terkait agar program MBG tidak hanya bergizi di atas kertas, tetapi juga aman ketika sampai ke tangan penerima manfaat.



